Sudah beberapa lama ini, mantan presiden Soeharto mengalami kondisi kritis dan dirawat di rumah sakit karena komplikasi berat yang ia alami. Pneumonia pada salah satu paru-parunya, anemia, tekanan darah yang sangat rendah, gangguan pernafasan, dan gangguan fungsi ginjal, dan mungkin beberapa kondisi mengerikan lain yang tidak kita ketahui, yang membayangi kematian yang semakin mendekati beliau. Memang urusan hidup atau mati seseorang adalah urusan Tuhan, namun bagi kita manusia yang pikirannya amat sangat terbatas ini, kondisi seperti itu sudah merupakan kondisi yang sangat dekat dengan kematian. Beliau mendekati kematian dengan perlahan-lahan, dan saya yakin dengan rasa sakit yang amat sangat luar biasa.
Namun saya heran, kenapa banyak sekali orang di luar sana yang terus meneriakkan kata-kata: “Adili Soeharto!”, “Penjarakan Soeharto!”, dan beberapa macam teriakkan penghakiman lainnya. Mari saya ajak untuk sedikit berpikir logis. Toh kalau memang Bapak ini diadili, dan ditemukan hukuman yang pantas, itu akan sangat lama. Mungkin saya pikir juga, kalau Bapak ini dimasukkan ke penjara, tak sampai seminggu juga umur beliau di penjara—sekali lagi, tak ada maksud saya untuk mendahului ketentuan Tuhan. Yang paling penting untuk dikejar adalah pertanggungjawabannya kepada rakyat, bukan hukuman fisik. Yang paling penting adalah untuk mengembalikan harta rakyat yang selama ini mungkin beliau ambil. Bukankah hutang itu bisa diwariskan juga? Bukankah masih banyak kolega-koleganya, anak-anaknya yang ikut merampok harta bangsa ini?
Itu kalau berpikir logis. Sekarang saya ingin mengajak untuk berpikir manusiawi. Bukankah kita ini manusia dan sepatutnya memiliki perasaan. Apakah tidak cukup hukuman ‘sosial’ yang kita berikan selama akhir hidupnya semenjak berhenti menjadi presiden? Ingat, kita ini manusia diajarkan Tuhan untuk bisa memaafkan. Sekarang masalahnya kita ini manusia, kita bukan Tuhan. Masak kita mau sombong menahan-nahan kesalahan seseorang sampai hari pembalasan nanti?
Saya pikir cukup dua cara berpikir di atas menjadi alasan bagi kita untuk memaafkan salah satu pemimpin kita ini. Memaafkan tanpa melupakan hutang yang dia punya yang nantinya akan ditanggung oleh anak-anaknya dan “kolega-kolega”nya yang masih hidup. Bahkan Sipon, istri dari Wiji Tukul yang merupakan korban langsung dari orde baru pun mendoakan kesembuhan dan keselamatan Pak Harto (The Jakarta Post, 16 Januari 2008). Tolong diingat lagi; kita ini manusia, bukan Tuhan.