Do I Need A Title For This?

just read!

  • RSS Piled Higher and Deeper

    • 12/21/09 PHD comic: 'Chipping in' Desember 23, 2009
      Piled Higher & Deeper by Jorge Cham www.phdcomics.com title: "Chipping in" - originally published 12/21/2009 For the latest news in PHD Comics, CLICK HERE!
    • 12/18/09 PHD comic: 'Should haves' Desember 20, 2009
      Piled Higher & Deeper by Jorge Cham www.phdcomics.com title: "Should haves" - originally published 12/18/2009 For the latest news in PHD Comics, CLICK HERE!
  • Blog Stats

    • 2,351 hits
  • About a Man

    Spesial, spesial karena sudah memasuki tingkat empat, spesial karena terus berdoa agar Juli 2009 bisa lolos dari kawah, ato kalo engga yang Oktober dah.. spesial karena punya pengalaman pahit yang cuma bisa ditertawakan, spesial karena suka banget ngeledekin berita-berita di TV Indonesia, spesial karena gak satu selera dengan selera musik dan film bangsanya--yang notabene dikendalikan oleh keturunan India, spesial karena gue pengen jadi orang yang spesial.. bukan orang yang biasa-biasa aja

Arsip untuk ‘Uncategorized’ Kategori

Campus Meeting, mengenai RUU BHP/ITB BHMN

Ditulis oleh mjah di/pada Januari 17, 2008

Campus Center Timur, 16 Januari 2008, 0900-1200

Institut Teknologi Bandung

 

Pak Widyo Lagi Ngomong

Seluk Beluk RUU BHP/ITB BHMN

Dewasa ini, telah terjadi perubahan pada sistem pendidikan Indonesia, yang salah satunya adalah perubahan pada beberapa perguruan tinggi, dari yang sebelumnya terdaftar sebagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN), menjadi Perguruan Tinggi Badan Hukum Milik Negara (PT BHMN). Salah satunya terjadi pada Institut Teknologi Bandung (ITB). Pada dasarnya, perubahan ITB dari PTN menjadi PT BHMN adalah untuk kebaikan dan kepentingan pengaturan di dalam institut sendiri. Semasa menjadi PTN yang pengaturannya berada sepenuhnya di bawah Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), ITB kurang bisa mendapatkan perhatian yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Sebut saja anggaran dan pemenuhan logistik yang diperlukan untuk mendukung proses utama perkuliahan, yang diatur dan dikirim langsung dari Jakarta, banyak yang tidak mengena dan sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Oleh karena itu, ITB berubah statusnya menjadi PT BHMN, yang kemudian membuat eksekutif kampus memiliki otonomi lebih luas terhadap tata kelola institut, dengan tanpa melupakan tanggung jawab dan mekanisme pengawasan yang harus lebih diperhatikan.

Perubahan telah terjadi semenjak tahun 2000 yang lalu, dan saat itu belum ada peraturan yang kuat yang menyokong keberadaan institut PT BHMN ini. Sehingga dirasa diperlukan suatu perangkat hukum yang lebih kuat. Itulah Rancangan Undang Undang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP), yang dalam proses penyusunannya telah mengalami sekitar lima puluh kali revisi untuk menemukan formulasi hukum yang tepat. Kemungkinan besar, RUU ini akan disahkan pada bulan Maret mendatang. Perlu digarisbawahi bahwa RUU BHP tidak hanya berbicara tentang perguruan tinggi, namun seluruh tingkatan pendidikan yang ada di negeri ini, jadi bukan tidak mungkin kalau sebuah Taman Kanak-kanak pun menjadi Badan Hukum Milik Negara.

Beberapa Permasalahan Yang Masih Ada

Perubahan tidak pernah berjalan dengan mulus, perubahan bukanlah semudah membalik telapak tangan. Begitu pula perubahan yang terjadi pada institut ini. Saya merangkum dua permasalahan yang dibahas pada campus meeting yang saya ikuti ini.

Masalah pertama menyangkut masalah pengawasan dari eksekutif pelaksana institut—rektorat. Seperti telah saya sebutkan di atas, otonomi yang lebih luas menuntut perhatian lebih pada mekanisme pengawasan kerja eksekutifnya. ITB memiliki beberapa perangkat utama selain rektorat untuk menjalani fungsinya sebagai perguruan tinggi. Salah satu perangkat itu adalah Majelis Wali Amanat (MWA), yang bisa kita analogikan sebagai DPR-nya Republik Indonesia, yang berfungsi sebagai legislatif pengawas eksekutifnya. Masalahnya ada pada keanggotaan dari MWA ini sendiri, rektor turut berada di dalam MWA. Jelas ini menjadi sesuatu yang absurd. Bagaimana bisa seseorang yang diawasi kerjanya, ikut dalam rapat yang membahas tentang apa yang telah dikerjakannya. Tentunya, sedikit banyak kondisi tersebut akan ikut mempengaruhi kinerja dari MWA sendiri dalam mengawasi fungsi kerja rektorat. Keanehan lain yang didapatkan, justru mahasiswa ITB yang berjumlah kurang lebih 15.000 orang—beserta di dalamnya mahasiswa S2, hanya memiliki satu perwakilan di dalam Majelis Wali Amanat tersebut. Entah hal tersebut sudah mengalami perhitungan dan pertimbangan yang matang, atau memang hal tersebut merupakan permasalahan yang harus lebih kita soroti.

Masalah kedua menyangkut kepada masalah kemahasiswaan. Otonomi yang lebih luas tadi, juga memberikan kekuasaan lebih rekorat untuk mengatur segala kegiatan kemahasiswaan dalam institut. Tempo hari baru saja disahkan sebuah surat keputusan senat akademik (SKSA), yang mengatur masalah kegiatan dan organisasi kemahasiswaan. Jika dibaca secara keseluruhan, SK tersebut memiliki jiwa idealisme yang sangat tinggi pada bagian awalnya, seperti mahasiswa saja yang membuat SK tersebut, namun ketika kita sampai pada bagian akhir, khususnya pada butir 6.5 dan butir 6.6, terlihatlah makin besarnya kekuasaan rektorat terhadap geliat kemahasiswaan institut. Jika dirangkum, kedua butir tersebut mengatakan bahwa: 1. Organisasi kemahasiswaan berada langsung di bawah aturan rektorat, dan memiliki pertanggungjawabannya kepada rektorat, dan 2. Pembukaan dan penutupan suatu organisasi kemahasiswaan langsung di bawah kendali rektorat. Setiap permasalahan selalu memiliki dua sisi mata uang. Begitu pun masalah ini, memiliki baik sisi positif dan sisi negatifnya. Positifnya, jelaslah bahwa status kita sebagai bagian yang tergabung dalam birokrasi kampus, dan tanggung jawab rektorat menjadi besar terhadap kelangsungan organisasi kemahasiswaan. Negatifnya, kita harus merelakan sebagian independensi kita dan merelakan diri untuk lebih bersusah payah dalam proses birokrasi untuk pelaksanaan bermacam kegiatan, walaupun sebenarnya makna konkret dan eksplisit dari ‘kendali rektorat’ tersebut belum dirumuskan.

Ada beberapa kompensasi yang kita tuntut dari hal negatif yang kita dapatkan. Salah satunya adalah tuntutan agar kita mendapatkan porsi diskusi yang lebih luas dan transparan dalam penetapan peraturan dan keputusan yang menyangkut langsung kehidupan kemahasiswaan. Sebutlah masalah larangan kaderisasi, masalah akses masuk kampus bagi kendaraan, masalah penggunaan fasilitas kampus, dan lain sebagainya. Karena bahkan pada campus meeting ini pun, pembicara menyatakan bahwa mahasiswa merupakan mahluk yang telah dianggap dewasa, bisa berpikir secara logis dan ilmiah, dan memiliki kebebasan untuk menentukan apa yang mereka butuhkan. Namun pembicara kemudian juga menyebutkan bahwa, pada kenyataannya, mahasiswa pun masih sering tidak dapat menahan dirinya untuk mempergunakan kebebasan yang telah dimiliki. Hal itu bisa jadi benar bisa jadi juga salah, namun apabila itu yang terlihat oleh bapak-bapak kita, maka tak ada salahnya kita lebih melihat lagi ke dalam diri kita sendiri, dan mempertanyakan diri sendiri, apakah memang benar kita sudah dewasa?

Perlu digarisbawahi pula bahwa pembicara pada saat itu mengatakan bahwa: Tidak selamanya demokrasi itu baik. Jangan langsung menghakimi apa yang telah dikatakan pembicara ini, alangkah baiknya jika kita mempelajari lebih dalam apa itu demokrasi. Kalau boleh meminjam perkataan Presiden Keluarga Mahasiswa (KM) pada saat itu: “Mari kita lebih sering membaca, menulis dan berdiskusi untuk lebih memperdalam, dan mengetahui apa yang belum kita ketahui.”

Konflik Nilai

Sebagai intermezzo, ada satu hal yang saya pelajari dari berjalannya campus meeting ini, dan tidak ada hubungan langsung dengan permasalahan yang sedang dibicarakan. Adalah bahwasanya pada suatu diskusi, akan menjadi sulit untuk menilai sesuatu yang diperbincangkan ketika masing-masing kepala yang menyampaikan sesuatu, tidak berdasarkan pada nilai kebenaran yang terintegrasi, namun berdasarkan dorongan kepentingan masing-masing golongan, atau bahkan kepentingan pribadinya sendiri.

Berpikir Lebih Keras

Pada akhirnya, kondisi perubahan ini menuntut kita untuk berpikir lebih keras, memahami kondisi perubahan lingkungan yang terjadi, dan berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan tersebut, tanpa melupakan nilai-nilai kebenaran yang kita junjung sebagai nilai utama. Jangan malah kita hanyut dalam romantisme sejarah kemahasiswaan kita yang memiliki berbagai warna. Meminjam kata seorang teman, kalau kita memang mahasiswa, dan kalau benar kita pernah berkata bahwa jiwa mahasiswa selalu dinamis akan perubahan, maka saat inilah saatnya membuktikan perkataan-perkataan tersebut.

 

Adapun campus meeting ini diselenggarakan oleh Kajian Strategis (Kastrat) Keluarga Mahasiswa ITB, yang dimoderatori oleh salah seorang sekjen KM, Saska, dan sebagai pembicara adalah Hanna Rengganis (Kastrat) dan Bapak Rizal Tamim (MWA ITB). Turut diundang dalam campus meeting ini, Bapak Widyo (WRKM), dan Zulkaida Akbar (Presiden KM).

 

For Majesty, Unity, and Glory.

 

Muhammad Hamzah

Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Material (MTM) ITB

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: | 1 Komentar »

Kita Ini Manusia, Bukan Tuhan

Ditulis oleh mjah di/pada Januari 17, 2008

Sudah beberapa lama ini, mantan presiden Soeharto mengalami kondisi kritis dan dirawat di rumah sakit karena komplikasi berat yang ia alami. Pneumonia pada salah satu paru-parunya, anemia, tekanan darah yang sangat rendah, gangguan pernafasan, dan gangguan fungsi ginjal, dan mungkin beberapa kondisi mengerikan lain yang tidak kita ketahui, yang membayangi kematian yang semakin mendekati beliau. Memang urusan hidup atau mati seseorang adalah urusan Tuhan, namun bagi kita manusia yang pikirannya amat sangat terbatas ini, kondisi seperti itu sudah merupakan kondisi yang sangat dekat dengan kematian. Beliau mendekati kematian dengan perlahan-lahan, dan saya yakin dengan rasa sakit yang amat sangat luar biasa.

Namun saya heran, kenapa banyak sekali orang di luar sana yang terus meneriakkan kata-kata: “Adili Soeharto!”, “Penjarakan Soeharto!”, dan beberapa macam teriakkan penghakiman lainnya. Mari saya ajak untuk sedikit berpikir logis. Toh kalau memang Bapak ini diadili, dan ditemukan hukuman yang pantas, itu akan sangat lama. Mungkin saya pikir juga, kalau Bapak ini dimasukkan ke penjara, tak sampai seminggu juga umur beliau di penjara—sekali lagi, tak ada maksud saya untuk mendahului ketentuan Tuhan. Yang paling penting untuk dikejar adalah pertanggungjawabannya kepada rakyat, bukan hukuman fisik. Yang paling penting adalah untuk mengembalikan harta rakyat yang selama ini mungkin beliau ambil. Bukankah hutang itu bisa diwariskan juga? Bukankah masih banyak kolega-koleganya, anak-anaknya yang ikut merampok harta bangsa ini?

Itu kalau berpikir logis. Sekarang saya ingin mengajak untuk berpikir manusiawi. Bukankah kita ini manusia dan sepatutnya memiliki perasaan. Apakah tidak cukup hukuman ‘sosial’ yang kita berikan selama akhir hidupnya semenjak berhenti menjadi presiden? Ingat, kita ini manusia diajarkan Tuhan untuk bisa memaafkan. Sekarang masalahnya kita ini manusia, kita bukan Tuhan. Masak kita mau sombong menahan-nahan kesalahan seseorang sampai hari pembalasan nanti?

Saya pikir cukup dua cara berpikir di atas menjadi alasan bagi kita untuk memaafkan salah satu pemimpin kita ini. Memaafkan tanpa melupakan hutang yang dia punya yang nantinya akan ditanggung oleh anak-anaknya dan “kolega-kolega”nya yang masih hidup. Bahkan Sipon, istri dari Wiji Tukul yang merupakan korban langsung dari orde baru pun mendoakan kesembuhan dan keselamatan Pak Harto (The Jakarta Post, 16 Januari 2008). Tolong diingat lagi; kita ini manusia, bukan Tuhan.

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: | 1 Komentar »

Permasalahan Senat Akademik

Ditulis oleh mjah di/pada Januari 10, 2008

Baru-baru ini senat akademik membahas masalah kemahasiswaan ITB, dan telah menghasilkan butir-butir kesepakatan yang mengatur masalah kemahasiswaan, dan juga pola hubungannya dengan rektorat. Naskahnya ada di saya, dan mungkin nanti akan saya perbanyak dan saya bagikan ke kawan2.

Pada bagian-bagian awal naskah tersebut, senat akademik begitu idealis mengatakan seperti yang kita katakan, bahwa belajar tidak hanya di dalam ruang kuliah, bahwa mahasiswa perlu wadah aktualisasi diri yang berupa organisasi kemahasiswaan. Namun apabila kawan telah sampai pada bagian akhir naskah tersebut, khususnya pada butir 6.5 dan butir 6.6, kawan akan menemukan kontradiksi yang ekstrim, yang dengan pongahnya menegasikan semua keidealan yang diumbar-umbar pada puluhan butir sebelumnya.

Pada bagian terakhir tersebut naskah mengatakan bahwa: kemahasiswaan diatur sepenuhnya oleh rektorat, dan penutupan suatu organisasi kemahasiswaan merupakan hak rektorat. Saya tidak hafal pastinya bagaimana kalimatnya, tapi kurang lebih maksudnya begitu. Jeleknya naskah tersebut sudah disetujui dan sudah diteken.

Kemudian di pihak mahasiswa sendiri berkembang wacana-wacana untuk membahas bargaining position antara pihak kita dan rektorat, karena toh naskah sudah diteken. Dan juga wacana untuk mempersatukan seluruh organisasi kemahasiswaan dalam satu organisasi terpusat KM-ITB. Di sini maksudnya lebih konkret lagi, memang dari dulu kita sebenarnya tergabung dalam KM-ITB namun tidak ada garis komando dari KM ke himpunan-himpunan, yang ada hanya koordinasi. Nah, yang dimaksudkan dengan bergabung sekarang adalah garis koordinasin yang sudah ada akan diganti dengan komando.

Jadi himpunan berada di bawah komando KM-ITB.

Nah, menurut saya pribadi, toh kalau memang kondisi telah mengatakan kalau kita harus bersatu lagi, kalau tidak ada militer yang menembaki DEMA lagi (sekarang KM), ya bersatulah, komando ya komando lah, asalkan, yang memberi komando ini bisa mempertanggungjawabkan apa yang dia komandokan.

 

Bagaimana menurut kawan-kawan?

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: | Leave a Comment »

Negara Binatang

Ditulis oleh mjah di/pada Oktober 9, 2007

Di elshinta juga, pagi ini juga, setelah gue mendengar kabar tentang kelakuan ‘aneh’ malay-malay gila itu, gue denger kelakukan bangsa kita yang lebih aneh lagi…

DIberitakan kalau ada seorang yang diduga mencuri, dikeroyok sebanyak 5 orang, yang di dalamnya ada yang membawa pisau…

Gila apa!? Udah main hakim sendiri aja udah gelo, ini lagi make pisau, ditikam pula ke si orang yang katanya mencuri ini, sekarang orang yang dituduh itu dikabarkan sekarat di rumah sakit.

Manusia apa binatang sih?
Dan sepertinya bukan di kalangan bawah aja yang gejalanya begitu, di kalangan atas juga gak jauh beda kok, cuma kelakukan binatang-nya lebih elegan aja…

Atau mungkin gue juga sedang bertransformasi perlahan-lahan menjadi seekor binatang? Negara gak bener ini enaknya sih ditinggalin aja… Tapi pasti langsung orang2 teriak: “Mana nasionalisme-mu?”

Halah, nasionalisme taik kuda…
Emang gue Nabi Muhammad apa, bisa dakwah sendirian kesana-kemari, tell the truth to everyone…

Negara Binatang…

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: , | 2 Komentar »

What’s Ur Problem, Melay??

Ditulis oleh mjah di/pada Oktober 9, 2007

Lagi-lagi cerita tentang keanehan sikap rumpun tetangga kita…

Jadi gue denger di elshinta pagi ini, kalo terjadi penggerebekan (pendobrakan) rumah seorang mahasiswa S2 Indonesia di Malaysia. Yang berada di rumah pada saat itu adalah istri dari si mahasiswa. Ketika itu datang beberapa RELA–semacam hansip-nya Malaysia, tapi direkrut oleh semacam dept. dalam negeri mereka, yang tanpa menjelaskan identitas mereka, dan maksud dan tujuan dari kedatangan mereka, menggedor-gedor rumah tersebut. Berhubung tempo hari terjadi perampokan (YANG LAGI-LAGI KORBANNYA ADALAH SAUDARA KITA, ORANG INDONESIA) di sekitar hunian mahasiswa S2 ini, sang istri memilih untuk diam dan tidak menggubris gedoran orang gila tersebut.

Dan tiba-tiba pintunya didobrak, oleh hansip-hansip belagu itu, dan tujuannya apa coba? Cuma mau menanyakan apakah mereka (mhs dan istrinya) punya beberapa izin yang harus mereka miliki, yang pada saat itu jelas mereka miliki.

Emang segitunya apa martabat orang Indonesia di depan tetangga kita ini?
Gak abis pikir sih sebenernya, iblis apa yang udah merasuki orang-orang Malay ini…
Atau mungkin ada yang bermaksud mengadu domba kita??

Conspiracy Theory-nya gimana?

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: , | Leave a Comment »

Ibu Penjual Lontong Sayur

Ditulis oleh mjah di/pada Oktober 6, 2007

Buat siapa aja yang baca blog ini, yang himpunan mahasiswa jurusannya berdomisili di sekitar labtek biru, pasti tahu siapa ibu ini. Yep. Beliau adalah ibu yang biasa berjualan di samping Himpunan Mahasiswa Biologi Nymphaea. Setahun yang lalu.

Dan saat itu, gue lagi jalan di satu jalan tikus penghubung antara Kebon Bibit dan Pelesiran. Seperti biasa gue selalu jalan tanpa memperhatikan lingkungan sekitar, sampe satu rangkaian suara seorang ibu yang mengagetkan gue karena gue pikir itu ditujukan buat gue..

Mysterious Voice: Masih kuliah di ITB mas??
G: Iya, bu…
M.V. : Oooohh, mas TK ya??
G: Bukan bu, saya material…
M.V. : Oooooohhhh, iya-iya, inget saya…

Gue merasa bersalah karena ibu ini inget gue, sedangkan gue…

LUPA..????

M.V. : Gimana kuliahnya mas? Sudah mau lulus yah??
(Hmmpppfffff….)
G: Enggak kok bu, masih lama kok, saya kan baru tingkat tiga.. Eng, maaf bu, saya lupa, saya pernah ketemu ibu dimana ya??
M.V. : Loh kamu lupa ya? Ituloh, saya yang suka jualan lontong sayur, sama anak-anak saya..
G: Lontong sayur??
M.V. : Iya, lontong sayur yang di samping biologi..
G: OOOOOOOOOOOOOOOOOOHHHHHHHHHHHHHHH………..

Nah, baru tuh inget kalo ibu ini dulu jualan lontong sayur di samping himpunan Biologi. Kalo gak lontong sayur, beliau juga suka jualan kupat tahu. Pokoknya doi adalah jawaban atas segala pertanyaan bebujang labtek biru yang gundah gulana mencari pengisi perut.

G: Wah, iya bu, smenjak ibu pergi, kita bingung nih, kalo lagi laper, jauh kalo mau makan…
Ibu LS : Yah, mau gimana mas, ibu juga gak bisa apa-apa lagi, udah gak boleh ama ITB-nya, padahal udah diperjuangin ama kahim-kahim, sama Pak Adi juga (Pak Adityanto Ramelan-red), tapi ya da gak boleh lagi, ibu juga bisa apa??

Dan pembicaraan seputar kepergian ibu ini pun terus berlanjut, sampai pada suatu saat dimana gue bertanya..

G: Hmm, sekarang ibu dimana bu?
Ibu LS : Yah, buat ngebiayain keluarga, ibu sekarang jadi pembantu, tuh di rumah sebelah, yang punya catering…
G: Oh, yang jualan bunga juga itu bu?
Ibu LS: Iya mas..
(Florist di depan kontrakan Razie yang dulu)
Ibu LS: Tapi gimana ya mas, serba gak cukup jadinya, bapak kan enggak kerja…

Pertanyaan di bawah yang gue lontarin selanjutnya membuat gue merasa bersalah…
G: Oh, sekarang ibu anaknya berapa bu..
Ibu LS: Enam mas….

dan ibu ini mulai menitikkan air mata…
dan gue mulai speechless…

Thursday, October 4th, 2007

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Warisan Bangsa Belanda

Ditulis oleh mjah di/pada Agustus 31, 2007

Pak Hari Lubis bercerita tentang fakta kewirausahaan di Indonesia. Doi bilang begini: orang Indonesia itu, kalau udah selesai kuliah, lebih milih pegawai, daripada milih buat jadi wiraswasta, mereka (kenapa pakai mereka, padahal doi toh orang pribumi juga???) lebih menghargai profesi pegawai yang notabene selalu ber-hem, celana bahan, dan berdasi, ketimbang wiraswasta yang berterserahlah-mau-pakai-apa-aja-asal-adem. Dan doi bilang kalo pola pikir begitu bermula dari bangsa yang zaman dahulu kala pernah menjajah kita: Netherland.

Ini kutipan dari catetan kuliah gue: (cieee, catetan…)
“Fakta bahwa orang Indonesia–golongan pribumi–lebih menghargai profesi pegawai daripada profesi wirausaha. Hal ini berkaitan dengan sejarah zaman Belanda yang memberikan penghargaan tinggi untuk ambtenaar–pegawai, dan tidak menghargai golongan pengusaha walaupun pendapatannya LEBIH TINGGI. Golongan wirausahawan dipegang oleh etnis Tionghoa, jadilah Indonesia dikuasai pengusaha Tionghoa, dan tidak berubah hingga sekarang.”

Whew, what a disturbing fact for me…

Apparently i never feel like that, my father and mother was entrepreneurs, they used to made many form of stuff using animal leather, and they was success, at least to make their daughter a doctor, their oldest son an ISO standarization consultant, their third son a graphical designer, and me, a student in a campus in Bandung.

How come? Should we leave those way-to-think?

Ayo, ibu-ibu, bapak-bapak, kalau ketemuan sama calon menantu, jangan dipaksa-paksa buat jadi pegawai lagi yaa.

Heuheu

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Pencuri Loker Buruh

Ditulis oleh mjah di/pada Agustus 26, 2007

Lagi-lagi nonton berita. Di berita kali itu diceritain bahwa ada sepasang suami istri yang suka membobol loker buruh di pabrik-pabrik, yang sayangnya (atau harusnya bagusnya), sepasang suami istri ini ketangkep 6 jam sebelum gue nonton berita ini, mereka ditahan di pos satpam pabrik sampe polisi dateng.

Bloodyhell, negara ini udah sebegitu anehnya kah? Miris gak sih, secara apaan gitu yang bisa diterabas dari loker buruh (maaf bos, bukannya mau menyinggung kaum buruh), pas si istri ditanyain ama petugas:

Petugas: Emang ibu ngambil apaan aja bu?
Ibu: Yah, ada tas kecil, sendal, sepatu, ambil aja, siapa tau ada duitnya

Bo, rakyat kita udah banyak yang ga sehat banget, bayangin aja nilep barang orang lain, yang NASIBNYA GA JAUH BEDA. Mungkin harus ada sosok tumbal kali ye, sosok Robinhood yang lihai dalam mencuri barang orang-orang tajirun mampusun di negeri ini, yang nanti bakal doi bagi-bagiin ke orang2 kayak si pasangan suami istri, buruh-buruh pabrik yang hidupnya kesusahan, pengungsi jembatan tiga, en so many many more…

Tapi tetep aja yaa, mencuri itu haram.

Tapi kalo mencuri dari koruptor, bisakah dihalalkan?

Humpf, just kidding, i can’t help myself to make me show you, how madly i was to those crabby minded corruptor.

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

17 Agustusan, Lagi

Ditulis oleh mjah di/pada Agustus 19, 2007

Dulu gue sempet jadi paskibra, waktu masih jaman SMA. Hampir tiap bulan, gue bertugas di lapangan upacara, pernah jadi pengibar bendera, pernah juga jadi komandan pasukan, tapi yang paling sering sih jadi pengibar benderanya. Awalnya sih ikut-ikut aja, secara pas baru masuk SMA didaulat buat jadi paskibra setelah melalui proses seleksi pas MOS-nya, belum lagi ikut pelantikan yang penuh ketegangan (di saat gue masih anak SMA), sayang aja gitu kalo ga aktif.

Tapi lama-lama…

Gue mulai ngerasain hal yang beda ketika gue makin sering bertugas buat ngawal Merah Putih ke tiang peraduannya, entah gimana yah? orang2 sih pada bilang: “Ih, apaan sih lu? it’s just a flag gitu loh..”, but for me, it’s more than a flag. You may think i’m crazy, but gue mulai ngerasa kalo bendera ini hidup, atau lebih tepatnya, bendera ini nyimpen banyaaak banget cerita tentang timbul tenggelamnya bangsa kita, en kalo die sempet dikasih kesempatan ngomong di depan gue, di depan elu semua, ga akan cukup waktu seharian buat dengerin ceritanya. Gue ngerasa harus ngehormatin bendera ini, sama kayak gue harus ngehormatin tetua sesepuh pejuang-pejuang kemerdekaan yang masih idup. En satu hal lagi, gue ngerasa tu bendera, selalu ngingetin gue biar ga lupa siapa gue sebenernya, di tanah mana gue lahir dulu, siapa yang mperjuangin tu tanah sehingga waktu gue lahir, gue bukan jadi warga kelas dua, bukan warga terjajah, en bendera itu juga ngingetin gue buat ngelanjutin mimpi-mimpi yang belum terwujudkan.

Lulus SMA, gue gak pernah ikut gitu-gituan lagi…

Tahun lalu, bahkan gue gak dateng, or at least peduli sama upacara bendera yang diadain pas tujuh belasan

But this morning, kebetulan banget kahimp gue mengamanahi gue buat ngegantiin presensi die di sabuga, di upacara pengibaran kampus, secara die juga buat upacara di selasar jurusan. Gue dateng dengan perasaan yang, biasa aja.

Tapi pren, waktu pasukan putih-putih masuk ke lapangan, my heart was starting to beat faster (this ‘faster’ is different with ‘faster’ when i meet a ‘girl’, huakakakakaka). Dan gue mulai merasakan perasaan itu lagi…. setelah sekian lama.

Hmm, mungkin gue gak bisa lama-lama menikmati rasa-rasa tersebut, tapi mungkin upacara pagi ini cukup buat mbangkitin semangat gue lagi, buat setidaknya nyumbangin sesuatu walaupun kecil, buat negeri.

august 17th, 2007

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Plagiat Nation

Ditulis oleh mjah di/pada Agustus 19, 2007

Nanggepin blognya om subek, yang concerning bout kenapa pribumi pertiwi yang konon gemah ripah loh jinawi, malah jadi demek rebek loh kok njiji’i… Kalo dipikir-pikir iya juga sih, jelas-jelas gitu yah, potensi terbesar kita ada di tanahnya yang bagus banget buat pertanian en perkebunan, jeung lautnyah yang luas yang kaya ama ikan-ikan (dari ikan teri ampe ikan fauzi). Then what on earth makes those people to focus on that goddamn manufacturing industries, and forget to develop our very rich soil??? really really doesn’t make any sense…

Sekelebat dalam pikiran gue, kepikiran satu kata: PLAGIAT

Mungkin yah, mungkin, orang-orang yang dulu mutusin buat bikin program pembangunan berbasis industri non-pangan, kesilauan ngeliat keberhasilan negara lain yang notabene tanahnya ga ada selain sampah (i’m sorry, never meant to offense this God’s earth, it’s just hiperbolic sentence), dengan pembangunan industrinya, yang JELAS-JELAS BAHAN BAKU INDUSTRI MEREKA DATANG DARI TANAH NEGERI KITA INI, YA, NEGERI KITA INI!!

Dan ga cuma masalah itu aja kita kecele gara-gara plagiat. Contoh kasus lain, waktu pertama kali ada departement store bertajuk xxC (x x Center), en terbukti rame dengan penjualan keping-keping bajakannnya, ujug-ujug aja dimana-mana dibangun depstor2 serupa dengan nama x x Center juga, sama kayak x x Walk, atau x x Town Square, plis dong, apa nggak demek dengernya, nggak punya kreativitas apa? Atau mungkin nama tersebut sudah tertulis di primbonnya mbah dukun?

Kasus lain lagi, dan ini yang menurut gue paling ga meaning. Di luar negeri sana, ada tuh ya acara reality show yang menandingkan voice and entertaining talent yang bisa diikutin semua orang (pasti lu langsung tau apa yang gue omongin), dan langsung aja tu acara dibuat juga di negeri ini. Masih mending gue sama acara yang namanya mirip ama acara luar negeri itu, dan acara satu lagi yang lebih dulu eksis. Tapi followers lainnya, huek!! apaan sih?? apa emang hasil riset pasar yang mereka lakuin bener-bener mengharuskan mereka untuk bertindak plagiat dan ngebuat acara lain “semacamnya” dengan konsep dan tema yang nggak banget?

Atau emang kesimpulannya balik lagi, UUD, ujung-ujungnya duit. Kalo iya, berarti bener emang konsumen negeri ini seneng dijejelin sama hal-hal gak guna, yang sebenernya sama aja dengan hal gak guna yang udah pernah dibuat sebelumnya. Atau si produsen yang gak pernah kreatif untuk buat sesuatu yang lain.

Emang saat ini gue omdo (omong doang). Gue gak tau apa yang bakal gue lakuin ketika gue jadi the real person nanti, but please, siapa aja yang baca tulisan ini, please ingetin gue nanti kalo gue menunjukkan gejala bakal jadi plagiat juga.

Crab!

ZzZzZzZzZzZzZzZzZzZzZzZzZzZz………….zzz….

Oia, besok tuh hari dimana 62 tahun yang lalu, nenek moyang kita dengan bangganya mengumumkan kedaulatan bangsa kita, meneriakkan pada dunia harga diri kita. Tulisan-tulisan gue akhir-akhir ini mungkin emang kebanyakan ngritik-ngritik ga jelas rakyat kita sendiri (termasuk di dalamnya gue, pastinya). Yah, setelah gue sadarin, gue niatin aja semoga ini bisa buat siapapun, siapapun yang baca, buat mikir lebih nakal, lebih kritis, dan lebih solutif tentunya. Biar makin banyak lilin-lilin kecil yang mencoba menerangi kegelapan.

august 16th, 2007

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »