Merencanakan Masa Depan
Ditulis oleh mjah di/pada Agustus 9, 2008
Sebuah hasil perbincangan dengan seorang supervisor yang sama, Pak F***. Beliau kali ini bercerita tentang merencanakan masa depan.
Rencanakanlah masa depan dengan sebaik-baiknya, saya yakin anda sudah sering mendengar kalimat seperti itu. Dan banyak dari kita tentunya yang sudah merencanakan masa depan dengan sedemikian rupa. Pada umur X anda lulus, kemudian pada umur Y anda sudah memiliki rumah sendiri, dan pada umur Z anda sudah menikah, lalu pada umur XY anda sudah memiliki momongan. Bagus sekali jika anda sudah merencanakan hal seperti itu dari sekarang-sekarang ini. Namun saran saya, pertimbangkanlah kembali rencana anda.
Mengapa begitu? Karena faktanya banyak dari kita, terutama pada umur-umur seperti ini (remaja nanggung, mau dibilang remaja mah udah jenggotan en kumisan, tapi kalo dibilang benar-benar dewasa ya belum juga sih), sering terlalu berapi-api dan terlalu idealis dalam merencanakan masa depan. Wajar karena pada umur-umur ini kita lagi semangat-semangatnya buat menjalani masa depan sehingga kita berapi-api, wajar juga karena kita masihlah sangat miskin pengalaman dan masih jarang menemukan kepahitan yang terjadi diluar perkiraan dan rencana sehingga kita menjadi terlalu idealis.
Saran saya, dalam merencanakan kembali masa depan, mintalah cerita dari berbagai orang yang sudah “mengalami” masa depan tersebut. Saya pun telah merencanakan masa depan, tapi setelah mendengar cerita Pak F*** tadi, saya sadar kalau rencana saya ternyata sangat rentan untuk membuat anak saya kesulitan mendapatkan susu nantinya. Dan bukan tidak mungkin juga kerentanan lain ada pada rencana milik anda.
Sehingga hidup anda akan menjadi lebih baik nantinya, dan anda pun tidak akan terkejut ketika hal yang tadinya anda rencanakan untuk menjadi manis, justru menjadi pahit seperti pahitnya biji petai busuk.
Lagi-lagi hanya berbagi cerita, faktanya saya pun toh belum “mengalami” masa depan saya..