Do I Need A Title For This?

just read!

  • RSS Piled Higher and Deeper

    • 12/21/09 PHD comic: 'Chipping in' Desember 23, 2009
      Piled Higher & Deeper by Jorge Cham www.phdcomics.com title: "Chipping in" - originally published 12/21/2009 For the latest news in PHD Comics, CLICK HERE!
    • 12/18/09 PHD comic: 'Should haves' Desember 20, 2009
      Piled Higher & Deeper by Jorge Cham www.phdcomics.com title: "Should haves" - originally published 12/18/2009 For the latest news in PHD Comics, CLICK HERE!
  • Blog Stats

    • 2,351 hits
  • About a Man

    Spesial, spesial karena sudah memasuki tingkat empat, spesial karena terus berdoa agar Juli 2009 bisa lolos dari kawah, ato kalo engga yang Oktober dah.. spesial karena punya pengalaman pahit yang cuma bisa ditertawakan, spesial karena suka banget ngeledekin berita-berita di TV Indonesia, spesial karena gak satu selera dengan selera musik dan film bangsanya--yang notabene dikendalikan oleh keturunan India, spesial karena gue pengen jadi orang yang spesial.. bukan orang yang biasa-biasa aja

ITB?

Ditulis oleh mjah di/pada Mei 14, 2008

Ada satu hal aneh dan menjengkelkan yang gue sadari berhubungan dengan kampus gue. Gini ya, orang itu selalu mengelu-elukan kampus gajah ngesot autis bertangan empat yang hiperaktif (iyalah, tangan ada empat en semuanya sibuk) sebagai kampus impian. Gue aja selalu jawab pelan ketika ditanya: “Kuliah di mana?”. Ga enak soalnya sama reaksi tipikal ketika orang-orang mendengar jawaban gue: “ITB..” Mereka kemudian bakal bereaksi: “Waaahh, bla bla bla bla…” Berat bro.

Setiap anak baru masuk, ada spanduk yang tulisannya kelewat sombong tujuh lapis langit: “Selamat Datang! Putra-putri Terbaik Bangsa, Selamat Datang di Institut Terbaik Bangsa (ITB).”

Begitu ya? Tapi coba deh maen ke kampus ITB, banyak banget keculunan yang terjadi di dalemnya (luarnya juga).
Lama-lama jadi absurd aja; “Oh, gini toh kampus terbaik bangsa itu..” Satu contoh, jalan tamansari yang mengelilingi setengah kampus. Jalan ini tiap tiga bulan rusak, bolong sana sini. Lebih lengkap lagi bahwa jalan ini gak ada lampunya. Jadi kalo malem lewat situ naek motor, siap-siap aja kena jackpot. Padahal yah, di sisi kampus yang deket ama jalan itu jurusan sipil. Emang sih, jalanan itu bukan milik ITB, dan yang bertanggung jawab di sana kayaknya pemkot. Tapi ya mosok, ITB gak bisa sumbangin apa-apa buat jalan itu, seenggaknya biar ga perlu dilapis tiap tiga bulan. Ya iyalah, jalan itu kan harusnya di-hotmix sekali aja cukup, kalo tiap tiga bulan dilapis mah berarti ada yang “mroyek” di situ. Atau emang bener itu tujuannya buat “mroyek”? Kalo iya ya gue ga bakal ngemeng apa-apa lagi.

Masalah gundukan sampah deket kampus? Wah, bakal lebih panjang lagi kalo kita mau ngomongin sampah…

Bukannya ingin menjadi civitas pengkhianat yang tidak menjaga nama baik almamater. Gue tetep bangga kok jadi anak ITB. Tapi sekedar mau menyadarkan, sampai kapan kita mau bersembunyi di balik baju bertatahkan intan permata ini, yang di baliknya adalah kulit yang penuh kusta.

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>